| Start: | Mar 5, '08 10:00a |
| End: | Mar 16, '08 6:00p |
| Location: | Bentara Budaya Jakarta, Jl.Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270 (021)5483008, ext.7910-13 |
Temans,
Bentara Budaya Jakarta mengundang Anda untuk datang ke acara pembukaan pameran Wondroushelter(bentuk2 rumah rayap dengan media tanah liat merah)
karya:NIA GAUTAMA (anggota MP juga looh).
Pameran akan dibuka oleh:MARCO KUSUMAWIJAYA (ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta)
Hari:Rabu, 5 Maret 2008, Pk.19.30 WIB
di Bentara Budaya Jakarta
Apa sih Wondroushelter??????
Wondroushelter
Rayap dan Semut di beberapa daerah dipelosok dunia mempunyai kerja ajaib. Terutama di daerah padang rumput yang kering (savanah) dan banyak pepohonan yang tumbang. Mereka mendirikan rumahnya ; berkoloni, bergotong – royong, sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan bahkan menahun, yang dipimpin oleh se-ekor ratu. Hingga hasilnya begitu mencengangkan. Rumah – rumah rayap atau disebut Mounds terjadi ketika sangkar tumbuh melewati batas permukaan yang tersembunyi. Rumah itu bisa menjulang hingga berukuran ekstrim ; sekitar 9 meter. Maka tak aneh ketika fenomena arsitektural alam itu menjadi acuan atau inspirasi manusia untuk membangun tempat tinggalnya yang lebih beradab.
Dengan menggunakan bahan mentah tanah liat , Nia Gautama membangun suatu susunan instalasi yang menggunakan idiom rumah rayap; bentuk silinder - lonjong mengerucut, setinggi 150 cm hingga sekitar 2 meteran. Ditiap bendanya itu, ia membuat beragam olahan dekorasi seperti wujud rumah atau gedung yang organis. Ia melubangi, menoreh badan tanah liat selagi belum mengeras. Memotong – motongnya dan membaginya dalam beberapa bagian untuk mempermudah kerja dan cara pengangkutan. Tanpa membakarnya, membiarkan tubuh dari tanah lempung merah yang dicampur bermacam material mengeras, tapi sekaligus rapuh.
Instalasinya bernuansa arsitektural : menjadi sebuah kumpulan gedung tinggi layaknya sebuah kota. Imajinasi yang cenderung bergaya naif merupakan metafor tentang tempat tinggal kumpulan manusia dan lingkungannya. Jakarta, dimana ia tinggal dan bekerja menjadi kosmopolit yang besar yang padat. Semua orang berdatangan dari segala penjuru nusantara untuk mencari kehidupan baru. Membangun gedung-gedung tinggi untuk perkantoran, maupun untuk mereka tinggal. Namun perkembangan kota ini kemudian dirasakan semakin rentan. Banjir yang tiap tahun harus dihadapi, gempa yang terus membayangi. Belum lagi perilaku masyarakat kota yang membuat banyak kerusakan alam dan sosial.
Oleh karena itu Nia mulai melihat elemen tanah liat secara lebih jauh ke dalam konsepsi berkarya. Serta untuk bisa mengajak kita bermain dengan imajinasinya. Bukan memperlakukannya sebagai produk budaya tradisi keramik. Sekaligus untuk menunjukan potensi material untuk kebutuhan simbolik. Seperti juga bagaimana tanah liat berguna untuk komuni rayap dan semut, atau kita bisa saksikan dalam kehidupan berbagai kebudayaan di dunia.
(Kurator pameran: Rifky Effendy)
Buat yg Mo ikut workshop keramik di bentara tgl 7 & 8 silahkan buruan daftar ke aku di :021-5483008, ext.7911
Datang ya,
Ika W Burhan
Bentara Budaya Jakarta